karena hidup selalu menghasilkan catatan

Jumat, 07 Desember 2012

PTK dan Rakyat Indonesia



                Tak semuanya yang gratis itu menyenangkan. Hey, ini bukan tentang aku yang kurang bersyukur. Bukan. Tapi ini tentang semua yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ini tentang kuliah gratis.
                Ya, aku begitu bersyukur karena aku bisa menjadi salah satu mahasiswi yang bersekolah di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Walaupun jujur saja, ini bukan keinginanku, tapi toh aku harus tetap bersyukur, karena ini jalanku dan Allah tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. =) Bisa bersekolah gratis, dapat tunjangan ratusan ribu setiap bulan, pekerjaan yang sudah di depan mata, dan segala fasilitas lain yang menyenangkan bisa aku dapatkan dengan bersekolah di salah satu perguruan tinggi kedinasan, dan itu mungkin tak akan aku dapatkan di perguruan tinggi lain. Hey, dan orang mana yang tak bersyukur dengan mengingkari kenikmatan Tuhan yang sudah diterimanya itu? Tentu aku sangat bersyukur. Namun tetap saja dibalik semua hal yang menyenangkan itu pasti ada kekurangannya. Bukan, ini bukan kita yang harus merantau dan jauh dari keluarga untuk sekolah di kota megapolitan dengan segala kericuhannya, yang tak akan pernah kita merasakan suasana ketenangan seperti di desa. Bukan itu. Ini juga bukan tentang ikatan dinas yang mengikat kita untuk bekerja dipemerintahan selama 2n+1 dari masa kuliah. Juga bukan itu. Bukan juga tentang kesiapan kita untuk rela ditempatkan dimana saja di kantor pemerintahan terkait di luar Jawa, yang tak jarang juga di daerah-daerah terpencil. Maksudku juga bukan itu. Tapi ini tentang AMANAH.
                Amanah. Memang tak patut jika mengatakan amanah adalah sebuah kekurangan, tapi kalau kita bisa sadar, amanah adalah tanggungjawab besar yang harus kita pikul ketika harus bersekolah di perguruan tinggi kedinasan. Dimanapun kita bersekolah, kita pasti menanggung yang namanya amanah, baik itu amanah dari orangtua, dosen, keluarga, dan semua orang yang mendukung kita. Tapi tetap saja, amanah yang kurasa saat ini terasa lebih besar. Amanah dari seluruh warga negara Indonesia.
                Sadarkah, darimana dananya diperoleh hingga kita bisa bersekolah gratis, tunjangan dinas ratusan ribu, dan segala fasilitas yang menyenangkan itu? Tentu dari APBN. Lalu darimana APBN itu? Dari uang rakyat. Nah, berarti tak berlebihan jika dikatakan kita menanggung amanah seluruh penduduk Indonesia. Ya, kita disekolahkan oleh seluruh penduduk Indonesia dengan harapan kita mampu menjadi generasi penerus bangsa yang bermoral dan memiliki kemampuan sesuai bidangnya untuk dapat membangun negara dan membawa negara ke arah yang lebih baik agar kehidupan rakyat Indonesia juga jauh lebih baik. Itu amanah kita. Besar bukan? Berat? insyaAllah tidak, jika kita terus berusaha memberi yang terbaik dan selalu istiqomah.
                Tapi bagaimana selama ini? Apa sudah merasa memberi yang terbaik? Bagaimana kuliahmu? Entah mengapa pengaruh setan begitu kuat. Kita sering terlena. Tanpa kita sadari, masih banyak diantara kita yang kurang serius kuliah, sering mengantuk bahkan tidur saat di kelas, masih sering malas belajar, menggunakan uang tunjangan untuk berhura-hura, dan banyak hal lain yang membuat kita terlena. Apa itu yang diharapkan rakyat Indonesia dari kita? Apa itu balas jasa kita kepada rakyat Indonesia yang telah menyekolahkan kita? Aku tak munafik, seringkali aku juga masih terlena, yang itu artinya sesering itu juga aku mengecewakan rakyat Indonesia. Astaghfirullah. Padahal kita punya amanah sebesar itu, yang menuntut tanggungjawab kita, yang nantinya dimintai pertanggungjawaban juga di akhirat. Pertanyaannya, sudah seberapa jauh usaha kita? MasyaAllah.
                Kawan, mari menjadi pribadi yang amanah dan terus istiqomah. Berusaha memberikan yang terbaik yang kita bisa. Perlahan tapi pasti, setidaknya kita selalu menunjukkan usaha kita untuk memberi yang terbaik bagi rakyat Indonesia, keluarga, bangsa, negara, agama, dan diri sendiri. Berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan rakyat kepada kita. Berusaha untuk tidak mengecewakan mereka. Berusaha untuk bisa bermanfaat bagi semua. Mari belajar menjaga amanah. =)

Selasa, 04 Desember 2012

Perubahan itu PROSES



                Sudah kodratnya manusia sebagai tempatnya khilaf, tempatnya salah. Untuk itulah ada agama sebagai jalan yang benar, dan kitab suci sebagai penunjuk kebenaran. Namun semua kembali lagi kepada manusia, mau dibawa kemana dirinya? ke arah yang sudah jelas penerangannya, atau ke arah yang gelap gulita? Karena hidup adalah pilihan.
                Sebagai manusia yang berakal dan beragama, sudah tentu ketika ia menyadari kesalahannya, ia akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi. Dari sinilah muncul perubahan. Namun kita juga pasti sadar, perubahan menuju kebaikan itu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi berubah dari sebuah kebiasaan yang secara periodik kita lakukan. Dan ini membuat perubahan itu menjadi semakin susah. Butuh niat yang kuat dan usaha keras untuk mencapai perubahan itu. Dari sinilah perubahan itu menjadi sebuah proses. PROSES! Dengan niat yang sudah kita pegang teguh, perubahan itu diibaratkan rangkaian anak tangga. BERTAHAP tapi PASTI. Tapi sekali lagi, kita manusia. Ada kalanya beberapa kali kita jatuh, namun dengan bekal niat baik, kita harus yakin kita bisa mencapai perubahan itu walau harus dengan tertatih-tatih.
Ya tentu saja setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda untuk mencapai perubahan itu, tergantung seberapa besar niat dan usahanya. Untuk itu jangan memaksa setiap manusia untuk dapat berubah cepat, sekali lagi bukankah setiap manusia itu BERBEDA? Bukankah perubahan itu PROSES? Jadi biarkan mereka, hargai usahanya untuk berubah, dukung mereka, bukan memaksa untuk berubah secepat yang kalian mau. Lihat progesifnya, walaupun lambat, tapi bukankah tetap ada perubahan? Jika mereka sudah menunjukkan progesifnya, yakinlah mereka sudah berusaha keras untuk berubah. =)

Jumat, 16 November 2012

Buku dan Metamorfosis



Apa hobimu? Aku selalu memiliki jawaban yang sama dari pertanyaan itu, ‘membaca’. Ketika baru mulai belajar membaca, aku selalu mengeja tulisan apapun yang aku lihat, sampai lelah, sampai bosan, sampai orang-orang tersenyum geli memperhatikanku. Semakin lancar aku membaca, semakin banyak pula yang aku baca; koran ayah, majalah ibu, brosur-brosur, dan apapun itu yang menarik perhatianku. Semakin bertambah tingkatan pendidikanku, semakin bermetamofosis pula buku bacaan yang intensitasnya paling sering kubaca. Dengan mengesampingkan buku pelajaran sekolah maupun buku acuan kuliah (karena mereka adalah kewajiban untuk dibaca), aku mengenal terlebih dahulu buku cerita bergambar, kemudian komik, novel teentlit, novel dewasa,dan kini aku harus PDKT dengan jurnal-jurnal orang. 
                Aku masih ingat, buku cerita bergambar pertamaku yang dibelikan ayah sebagai hadiah. Bukan hadiah sebagai penghargaan, tapi hadiah sebagai hiburan, yaitu tepat saat hari itu aku diperbolehkan pulang setelah kurang lebih seminggu harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Gambarnya, ceritanya, aku suka. Walaupun sekarang keberadaanya tiada, tapi aku masih ingat buku cerita bergambar tentang putri duyung itu. Aku juga ingat, buku komik pertamaku yang dibelikan ibu dengan harus sedikit merajuk, Doraemon vol. 18, yang menjadi perintis dari kumpulan komik-komik di rak bukuku. Aku juga ingat, bagaimana aku harus mengantri dalam antrian daftar peminjam untuk meminjam novel teentlit Dealova dari seorang teman, novel teentlit pertama yang aku baca, yang membuat aku tertarik untuk membaca lebih banyak lagi novel di masa-masa sekolah menengah pertamaku. Ingat juga, bagaimana aku tak sengaja membaca novel dewasa Love Affairs saat masa Sekolah Menengah Atasku namun tetap saja aku membacanya sampai lembar terakhir. Kini, walaupun aku harus menghabiskan waktu membacaku sebagian besar untuk jurnal-jurnal orang demi tugas-tugas yang merupakan kewajiban seorang mahasiswa, bukankah membaca tetap menyenangkan? Bukankah cerita bergambar, komik, dan novel tak pernah marah padaku dan tetap terlihat menarik? Bukankah berbagai jenis buku-buku itu tetap bisa menjadi temanku walaupun seberapa jauh aku bermetamofosis? Mereka tetap teman yang menyenangkan =)

Senin, 12 November 2012

Kisah si Buku Komik "Doraemon"



            Hai, kenalin namaku komik Doraemon. Aku berkebangsaan “komik”. Aku diadopsi oleh seorang gadis kecil sekitar 10 tahun yang lalu, namun hingga saat ini aku masih menjadi kepunyaannya. Aku masih ingat betul bagaimana aku bisa mengenalnya saat itu. Dan aku ingin mengisahkannya pada kalian.
            Sekitar 10 tahun silam, ketika aku masih terbungkus rapi oleh plastik, ketika aku masih asyik berdiam diri di rak buku di suatu toko buku yang cukup besar dan diantara kawan-kawanku yang berkebangsaan sama, “komik”, ada seorang gadis kecil yang datang dan berdiri di hadapan kami. Ia tampak memandangi kami satu per satu, kemudian ia berlari kecil entah kemana. Tak butuh waktu lama ia kembali, namun kali ini ia datang dengan menggandeng tangan seorang wanita. Dengan mata yang berbinar-binar ia menunjuk-nunjuk kami, dan sesekali merajuk kepada wanita itu. Saat itu, wanita tersebut tersenyum dan berkata, “Ambillah satu, yang mana aja!” Sontak sang gadis itu tersenyum, tampak bahagia, dan mengucapkan terima kasih kepada wanita tersebut yang kemudian aku ketahui sebagai ibunya. Awalnya ia tampak bingung, namun takdir membuat ia memilihku. Tak lama, akupun sudah berada di rumahnya.
            Ternyata aku adalah buku komik pertamanya yang ia miliki. Aku masih ingat betul bagaimana ketika ia pertama kali membacaku dengan semangat namun juga penuh kehati-hatian, mungkin saat itu ia takut membuatku sobek. Ia memperlakukanku begitu sopan.
            Sejak saat itu, satu demi satu aku mempunyai teman baru dengan kebangsaan yang sama. Semakin lama, temanku juga makin bervariasi, kini aku memiliki teman berkebangsaan “novel”, ada juga yang berkebangsaan “buku motivator”, dll. Bahkan tak jarang juga kami kedatangan tamu yang berasal dari pemilik lain. Kami semua ditempatkan di tempat yang sama, di sebuah rak buku yang tak terlalu besar namun menurutku cukup nyaman karena kami selalu ditata rapi.
            Walaupun sudah hampir 10 tahun aku mengenalnya, walaupun sudah banyak aku kehilangan beberapa temanku karena peminjam yang tak bertanggung jawab, walaupun seringkali aku menginap di rumah orang, dan walaupun tubuhku sudah tak sebagus dulu, tapi aku tahu bahwa aku masih berarti untuknya. Karena dia selalu berkata kepada para calon peminjam diriku, “Jangan lupa dikembaliin ya! jangan sampai sobek juga! Itu buku komik pertamaku soalnya”. (Untuk buku komik pertamaku yang aku punya, “Doraemon vol.18”, pemberian dari ibuku tersayang)

Selasa, 06 November 2012

Aku Berusaha

Kesalahan2ku padamu, mengajarkanku banyak hal..
dan bahwa aku harus :

Berusaha untuk ga membuatmu sebal
dengan selalu memilah kata2 saat aku sms kamu
memilah milah topik yang ga membuat risih kamu

Berusaha untuk ga mengganggu kamu
dengan ga terlalu sering sms kamu
menghubungimu hanya sesekali walaupun hatiku ingin

Selalu berusaha untuk menjadi lebih baik
Berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah ku lakukan
Belajar dari semua itu

Tapi ada satu yang belum bisa ku lakukan
walau sekeras apapun aku berusaha
aku tak bisa melupakanmu

karena hingga kini, aku masih menyayangimu
entah sampai kapan

Senin, 22 Oktober 2012

for 7months and 13days

Kamu yang mengajarkanku arti cinta
tapi kamu juga yang menunjukkan aku luka karenanya

Kamu yang pertama pernah berucap "aku tak kan meninggalkanmu"
tapi kamu juga yang berucap "maaf, aku harus meninggalkanmu"

Namun seberapapun aku berusaha melupakanmu,
aku masih menyayangimu dengan perasaan yang sama
bukan aku yang berusaha bertahan
tapi cinta ini yang menahan
entah sampai kapan

-for 7months without you-

Minggu, 21 Oktober 2012

mikro ekonomi - pertemuan 1


Ilmu ekonomi perlu dipelajari karena : kebutuhan tak terbatas --> scarcity --> kepuasan maksimum
(mempelajari bagaimana mencapai kepuasaan maksimum dalam pemenuhan kebutuhan dengan sumber daya terbatas tapi kebutuhan tak terbatas)

pelaku ekonomi : produsen, konsumen, pemerintah, LN

ilmu ekonomi dibedakan menjadi ekonomi mikro dan makro
  *ekonomi mikro : mempelajari perilaku pelaku ekonomi secara individu. misal : hasil produksi padi lahan pak Teguh
  *ekonomi makro : mempelajari perilaku pelaku ekonomi secara global. misal : hasil produksi padi untuk provinsi Jawa Timur

ekonomi normatif : membahas apa yang seharusnya terjadi (teoritis)
ekonomi positif : membahas secara faktanya

nilai nominal : nilai yang tertera
nilai riil : dicerminkan dari daya beli

pasar : terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli

IHK : dibangun dari ratusan komoditi untuk menghitung inflasi
*IHK Laspeyres : penimbangnya adalah produksi pada tahun dasar. secara teori kurang baik karena perubahan harga dilihat berdasarkan perubahan produksi pada tahun bersangkutan, namun secara prakteknya jauh lebih praktis dibanding IHK Pasche.
*IHK Pasche : penimbangnya adalah produksi pada tahun bersangkutan. secara teoritis lebih baik, namun prakteknya sulit dilaksanakan karena data yang diperlukan tak mudah didapat.

SUPPLY dan DEMAND
  pada umumnya perubahan produksi dipengaruhi oleh perubahan harga, namun kenyataannya juga dipengaruhi oleh faktor ceterus paribus.
perubahan produksi yang hanya dipengaruhi harga akan membuat titik pada kurva demand dan  supply bergerak. namun jika yang mengalami perubahan adalah faktor ceterus paribus, maka kurva akan bergeser.

ELASTISITAS
 adalah perubahan 1% variabel mengakibatkan variabel lain berubah sebesar x %
 besar kecilnya elastisitas dilihat dari besar angkanya, bukan tanda. tanda pada elastisitas hanya menunjukkan arah perubahan, sehingga antara - 8 dan 3 yang paling elastis adalah - 8. nilai elastisitas itu sendiri adalah berkisar antara 0 sampai tak terhingga.
elastisitas = 0 disebut inelastik sempurna
elastisitas = tak terhingga disebut elastisitas sempurna
elastisitas = 1 disebut  unitary elasticity

jenis-jenis elastisitas :
1. elastisitas harga
2. elastisitas income
3. elastisitas silang

umumnya tanda elasstisitas demand adalah negatif dan elastisitas supply adalah positif.

cara baca elastisitas: misal elastisitas harga = -7 maka dapat dibaca:
1. penurunan harga sebesar 1% akan menaikkan produksi sebesaar 7%
2. kenaikan harga sebesaar 1% akan menurunkan produksi sebesar 7%