karena hidup selalu menghasilkan catatan

Rabu, 27 Februari 2013

Aku (BUKAN) Mahasiswa Biasa

Dari masa sekolah, aku tak pernah merasa tertantang dengan yang namanya organisasi..
apa itu? meliriknya pun tidak...
saat-saat dulu aku hanya sekedar 'ikut-ikutan' atau sekedar 'iseng-iseng berhadiah'
ikutpun hanya akan bertahan paling lama, 1semester.. -__-"
saat itu, aku hanya cukup puas dengan aktivitas kelasku, selebihnya... aku tak peduli
sepertinya sudah banyak korban dari ketidak konsistennanku..
ekskul tari, sanggar cheerleader, ekskul mading, ekskul majalah sekolah, ekskul pramuka..
mungkin aku cukup konsisten dengan Panembromo dan paduan suara, sayangnya kegiatan itu bersifat 'musiman'
panembromo yang ada hanya saat ada lomba
paduan suara yang hanya ada saat acara wisuda atau upacara kemerdekaan -__-"

sekarang, di masa kuliahku...
masa kuliah yang insyaAllah kurang 3 semester lagi menjadi masa dunia kerja
aku mulai melirik banyak hal...
betapa menyenangkannya mengikuti seminar-seminar
betapa menariknya menghadiri perlombaan (kemudian terbesit 'aku juga ingin jadi salah satu pesertanya')
betapa menyenangkannya jadi anggota 'tetap' suatu UKM
betapa serunya berbicara di hadapan umum..
betapa tertantangnya menjadi panitia suatu kegiatan...

ah, aku benar-benar tak ingin membentuk memori standar di masa kuliahku..
aku ingin beda...
aku ingin bisa memberikan suatu konstribusi untuk kampusku...
aku ingin terlibat dalam setiap langkah maju...
tak ingin sekedar kupu-kupu..
tak ingin sekedar kutu buku...
tak ingin sekedar pengamat

karena yang ku mau, :
aku (bukan) mahasiswa biasa...

Selasa, 26 Februari 2013

Nikmat Mensyukuri Sehat

bersyukur adalah hal sederhana tapi sering dilalaikan oleh manusia.. padahal bersyukur termasuk salah satu resep yang jika selalu diterapkan akan membuat hidup selalu bahagia...
mungkin kisah ini bisa dijadikan pelajaran, contoh, atau mungkin sentilan bagi kita untuk menyadari nikmatnya SYUKUR. konteks kali ini adalah syukur atas nikmatnya sehat...

ini kisah nyata..
seorang teman didiagnosa dokter menderita penyakit kanker..
segala bentuk pengobatan dilakukan sebagai proses penyembuhan...
dan tentu saja proses pengobatan itu bukan hal yang mudah..
dia bercerita betapa menyakitkannya kemoterapi yang rutin dilakukan, yang membuat dia harus mencukur habis rambutnya.. rambut yang bagi seorang wanita adalah mahkota..
belum lagi harus rajin transfusi darah setiap minggu dg salah satu tujuan agar wajahnya tak terlihat pucat..
dan beberapa proses upaya penyembuhan lainnya..
karena penyakit yang menyerangnya itu, kini ia kehilangan salah satu fungsi utama lidah sebagai indra perasa... rasa2 itu kini hambar baginya...
produksi saliva juga berkurang, membuatnya harus ekstra berjuang untuk menelan makanan, dan dia bilang itu menyakitkan...

andai dia tak sering ijin kuliah untuk berobat..
andai dia tak menggunakan wig...
andai wajahnya tak pucat...
sapa sangka jika dia sedang sakit?
mungkin tak akan ada yang tau..
karena....
matanya selalu bersinar
senyumnya selalu mengembang
wajahnya selalu berseri ceria..
semangatnya selalu membara...
ya, semangatnya saat kuliah, semangatnya saat bersosialisasi..
semangat.. semangatnya itu membuat aku takjub..
dia lebih dari sekedar kuat... tak sedikitpun di wajahnya atau lakunya terlihat penderitaan yang harus dia rasa karena sakitnya itu..

lalu bagaimana dengan kita yang diberi nikmat sehat? berapa sering kita mengeluh? berapa sering kita bad mood sehingga tidak bersemangat? berapa sering kita lupa bersyukur akan nikmat sehat kita?
tidakkah kita malu dengan mereka yang harus mengalami cobaan itu tapi selalu bersemangat dan tetap bersyukur untuk tiap detik yang masih bisa dilalui?

lalu, maukah kita sadar? maukah kita untuk tidak lupa bersyukur dengan nikmat sehat yang kita punya? mau kah kita tidak menyakiti diri kita dengan hal2 yang bisa membuat kita sakit? maukah kita terus bersemangat? ini bukan tentang 'ingin' tapi tentang 'kemauan'...keinginan dan kemauan adalah hal yang berbeda.. karena kalau kita sudah 'mau' maka kita akan menerapkannya, sementara 'ingin' hanya sekedar sebuah perasaan..

ini bukan menggurui, tapi ini pengingat... pengingat untukku, untukmu, dan untuk semua... karena aku sendiri sadar, kadang aku juga termasuk salah satu orang yang lalai..

mulai sekarang, detik ini... MARI SELALU BERSYUKUR :) Alhamdulillah :)

Buku dan Konflik Batin


  Ayahku selalu bilang padaku, “Banyaklah membaca buku, dengan begitu kamu akan memahami dunia.” Ibuku juga selalu bilang, “Lebih baik jadi seorang kutu buku kan nak, daripada harus keluyuran nggak jelas?”. Segala quotes tentang buku, tiba-tiba membuatku ingat pada film “Night at the Museum”, imajinasiku menari pada dunia “Books when you aren’t around”
Buku Dongeng           : “Aku buku yang paling asyik. Cukup baca aku, kemudian akan aku bawa pembacaku ke dunia yang indah.”
Buku Ensiklopedia     : “Tapi kamu cuma fiksi, sementara dunia ini butuh kenyataan. Akulah yang terbaik. Aku bisa membawa pembaca keliling dunia, walaupun raga mereka tetap di tempat yang sama, di tempat mereka membacaku.”
Buku Novel               : “Sayangnya, kenyataannya manusia juga butuh imajinasi. Dengan membacaku, mereka bisa menciptakan dunia mereka sendiri sesuai imajinasi mereka.”
Buku Pelajaran          : “Bukankah aku yang membantu manusia memahami mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mereka? Jadi aku yang paling dibutuhkan.”
Buku Komik              : “Nyatanya aku yang paling menarik. Kombinasi gambar dan tulisan pada diriku seimbang. Ringan, menyenangkan. Aku bisa dibaca semua golongan usia.”
Mereka terus memperdebatkan siapa yang terbaik diantara mereka. Rak buku yang sedari tadi diam, kini berusaha melerai.
Rak Buku                  : “Berhentilah berdebat! Tidak ada satupun buku yang lebih baik dari buku yang lainnya. Karena semua dari kalian adalah yang terbaik, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Karena kalian adalah buku. Kalian yang membuat manusia bisa tahu dari apa yang sebelumnya tak diketahui, bisa lebih tahu dari sebelumnya yang sudah diketahui, bisa membuat mereka tertawa, sedih, marah, terharu. Kalian itu special. Kombinasi dari kalian akan menyeimbangkan otak kiri dan kanan manusia, untuk seluruh pengetahuan dan imajinasi yang kalian berikan, untuk seluruh penggunaan logika dan emosional saat membaca kalian. Sekali lagi, karena kalian adalah buku, Sang Jendela Dunia.”
Buku-buku yang semula berdebat, kini saling melirik, tersenyum, dan kembali berdebat untuk berebut meminta maaf. Rak buku hanya pasrah, capek mendengar perdebatan mereka. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia mendekat.
Rak Buku                  : “ Ssssstt...! Diam! Ada manusia datang.”
Hening. Kemudian muncul sesosok manusia menuju rak buku tersebut. Sibuk memilih buku mana yang hendak ia baca. Tapi tahukah kalian? Buku-buku itu tersenyum, rak buku juga ikut tersenyum.