karena hidup selalu menghasilkan catatan

Selasa, 26 Februari 2013

Buku dan Konflik Batin


  Ayahku selalu bilang padaku, “Banyaklah membaca buku, dengan begitu kamu akan memahami dunia.” Ibuku juga selalu bilang, “Lebih baik jadi seorang kutu buku kan nak, daripada harus keluyuran nggak jelas?”. Segala quotes tentang buku, tiba-tiba membuatku ingat pada film “Night at the Museum”, imajinasiku menari pada dunia “Books when you aren’t around”
Buku Dongeng           : “Aku buku yang paling asyik. Cukup baca aku, kemudian akan aku bawa pembacaku ke dunia yang indah.”
Buku Ensiklopedia     : “Tapi kamu cuma fiksi, sementara dunia ini butuh kenyataan. Akulah yang terbaik. Aku bisa membawa pembaca keliling dunia, walaupun raga mereka tetap di tempat yang sama, di tempat mereka membacaku.”
Buku Novel               : “Sayangnya, kenyataannya manusia juga butuh imajinasi. Dengan membacaku, mereka bisa menciptakan dunia mereka sendiri sesuai imajinasi mereka.”
Buku Pelajaran          : “Bukankah aku yang membantu manusia memahami mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mereka? Jadi aku yang paling dibutuhkan.”
Buku Komik              : “Nyatanya aku yang paling menarik. Kombinasi gambar dan tulisan pada diriku seimbang. Ringan, menyenangkan. Aku bisa dibaca semua golongan usia.”
Mereka terus memperdebatkan siapa yang terbaik diantara mereka. Rak buku yang sedari tadi diam, kini berusaha melerai.
Rak Buku                  : “Berhentilah berdebat! Tidak ada satupun buku yang lebih baik dari buku yang lainnya. Karena semua dari kalian adalah yang terbaik, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Karena kalian adalah buku. Kalian yang membuat manusia bisa tahu dari apa yang sebelumnya tak diketahui, bisa lebih tahu dari sebelumnya yang sudah diketahui, bisa membuat mereka tertawa, sedih, marah, terharu. Kalian itu special. Kombinasi dari kalian akan menyeimbangkan otak kiri dan kanan manusia, untuk seluruh pengetahuan dan imajinasi yang kalian berikan, untuk seluruh penggunaan logika dan emosional saat membaca kalian. Sekali lagi, karena kalian adalah buku, Sang Jendela Dunia.”
Buku-buku yang semula berdebat, kini saling melirik, tersenyum, dan kembali berdebat untuk berebut meminta maaf. Rak buku hanya pasrah, capek mendengar perdebatan mereka. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia mendekat.
Rak Buku                  : “ Ssssstt...! Diam! Ada manusia datang.”
Hening. Kemudian muncul sesosok manusia menuju rak buku tersebut. Sibuk memilih buku mana yang hendak ia baca. Tapi tahukah kalian? Buku-buku itu tersenyum, rak buku juga ikut tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar